Jumat, 17 Januari 2014

Untukmu








Tanpa mengesampingkan kehadiranmu, hanya saja aku tetap merasakan kesepian disini. Kesepian yang “berbeda”, kesepian yang tak lekang oleh waktu, kesepian yang sampai mati pun akan aku rasakan, kesepian yang tidak setiap orang pernah merasakannya. 

Aku bosan seperti ini, hidupku hampa. Aku ingin merasakan sebagaimana orang lain hidup. Bersama orang tua mereka, keluarga yang harmonis, mempunyai kakak-adik. Tentu, aku ingin seperti itu. Aku ingin merasakan bagaimana mempunyai orang tua yang selalu bersama, aku ingin mempunyai pertengkaran-pertengkaran kecil dengan kakak atau adikku. 

Aku sangat menginginkan hal yang tidak akan pernah aku dapatkan. Bila itu semua tak akan pernah kudapatkan, tak mengapa. Aku hanya tinggal menerima dan bertahan dengan semua ini. 

Denganmu saja, aku sudah sangat bahagia. Iya, cukup deganmu aku rasa. Aku berterima kasih kepada Tuhan, meskipun aku merasakan kesedihan yang dalam tapi dilain hal, Dia mengirimu kepadaku. Semoga tidak hanya sementara, tapi selamanya kau menjadi obatku. 

#Untukmu.

Kamis, 25 April 2013

Sepotong cerita disiang hari



Hari ini, saat pulang dari kampus. Tepatnya didekat rel kereta api dekat rumahku, aku bertemu dengan seseorang yang istimewa.  Iya, beruntung sekali aku bertemu dengan penderita down-syndrome  siang ini. Dengan spontan aku menghentikan laju sepeda motorku didekatnya, aku teringat ditasku ada satu botol air minum yang baru aku beli di kampus. Aku meraih tasku dan kemudian menyodorkan air dingin itu kepadanya, dia pun menyambut uluran air minum tersebut. Kemudian dia tersenyum kepadaku. Sepertinya dia masih menunggu aku mengeluarkan sesuatu lagi, mungkin dia berharap aku mengeluarkan makanan untuknya. Akupun kecewa karena aku tidak dapat memenuhi harapannya. Kemudian aku berlalu dengan rasa yang ‘berat’. Tampak beberapa anak kecil yang melihat peristiwa ini dari rel kereta.

Aku melanjutkan perjalananku yang tinggal sedikit lagi untuk menuju kerumah. Disepanjang perjalanan aku tidak tenang. Apa yang harus kulakukan untuk orang itu, aku yakin dia pasti lapar. Aku mendengus kesal dalam hatiku, kenapa tadi tidak ada makanan lain di tasku kecuali mi lidi. Tapi aku tidak tega memberinya mi lidi, aku takut dia sakit perut nantinya. Terpikir olehku untuk mengambil makanan dirumah. Ya, dirumah ada nasi meskipun aku tadi hanya memasak sayur tempe karena terburu-buru kekampus.

Aku menambah kecepatan laju motorku agar segera tiba dirumah. Aku takut jika orang tersebut tidak ada ditempat itu lagi. Segera aku membungkuskan nasi dan sayur untuknya tak lupa sendok plastik untuk memudahkannya makan. Lalu aku cek lemari, ternyata hanya ada sebungkus biskuit. Ya sudahlah aku akhirnya hanya membawakannya nasi bungkus, biskuit dan dua botol air putih. Ya, hanya itu yang ada yang bisa kubawakan untuknya. Segera aku cepat-cepat dengan diam diam keluar rumah, aku takut mbah pasti akan banyak bertanya ini itu.
 
Segera aku melaju motorku kembali ketempat itu, aku terus berdoa semoga orang istimewa itu masih berada disana. Sampailah aku ketempat dimana tadi aku melihatnya duduk, tapi ... ternyata aku harus cukup terpukul karena dia sudah tidak berada ditempatnya. Aku terpaku, kemanakah perginya orang itu? Aku melihat keseliling untuk mencari sosoknya tapi tetap tak kutemukan dia dimanapun. Aku hanya berdiri, termangu melihat bungkusan yang akan kuberikan padanya. Ah, kenapa dia tidak menungguku, apakah dia mampu berjalan secepat itu sehingga sudah hilang dari tempat ini. Aku melihat beberapa anak yang sedang bermain di rel kereta api. Aku mencoba bertanya pada anak kecil itu.  
“Dek, ngertos tiang sing teng mriki mboten?” kataku, yang artinya aku bertanya sosok orang yang sedari tadi duduk disini.
Dia menjawab “mboten ngertos mba”, dia menggeleng tanda tidak tahu.

Duh, kemana aku harus mencarinya. Tiba-tiba adik kecil itu menunjuk ke arah kebun dan berteriak “lha niku mba, teng mriku”... dia menunjuk seseorang di kebun dekat rel kreta. Aku menghampirinya. Aku gembira, dia sedang duduk sambil meminum air yang tadi kuberikan. Aku pun kembali berhenti didekatnya. Aku tau, dia mungkin tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Tapi aku tau, dia mengerti isyarat-isyarat yang aku berikan. Aku lambaikan tanganku agar dia menghampiriku. Dia pun mengerti, dia beranjak dari tempat duduknya dan dengan langkah gontai berjalan kearahku. Aku ulurkan bungkusan yang sedari tadi aku bawa untuknya. Dia tersenyum melihatnya. Dia menyambut dengan gembira uluranku. Aku berkata “dimaem nggeh” yang artinya agar dia memakan makanan tersebut. 
 
Sepertinya dia berusaha menyampaikan rasa terima kasihnya, dengan mengangkat bungkusan itu sambil tersenyum lebar kepadaku. Matanya, menyiratkan usianya yang mungkin lebih tua dariku. Jauh lebih tua.
Aku sedih, hanya itu yang dapat kulakukan untuknya. Hanya makanan yang sederhana yang mampu kuberikan. Ingin sekali aku bisa membuatkan tempat atau rumah yang layak untuk orang-orang seperti mereka. 

Aku ingin menangis ketika meninggalkannya, sebagai manusia aku ingin juga memanusiakan orang seperti itu yang mungkin entah kenapa dia bisa berjalan sendiri, tidak bisa merasakan kehidupan layak selayaknya warga negara yang  konon punya sumber daya alam berlimpah ini. Tapi, sayang sekali Negara melupakannya. Melupakan orang-orang yang tidak mempunyai rumah. Melupakan orang-orang dengan down-syndrome seperti ini. 

Bukankan setiap warga negara berhak mendapatkan kehidupan yang layak??
Aku hanya mampu berdoa, semoga Yang Maha Kuasa selalu melindungi orang-orang seperti mereka dan selalu mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka untuk mereka. Amin.



Selasa, 08 Mei 2012

JEMBANGAN WISATA ALAM (JWA)

Mutiara yang Tersembunyi

Otonomi daerah yang dicanangkan oleh pemerintah  memberi kesempatan bagi kepala daerah tingkat kabupaten untuk melakukan kebijakan pemekaran wilayah. Pemekaran wilayah merupakan salah satu kebijakan dengan tujuan agar suatu daerah mampu mengembangkan diri terhadap potensi daerah tersebut.  Kabupaten Kebumen melakukan kebijakan tersebut terhadap beberapa kecamatan salah satunya adalah Kecamatan Poncowarno. Potensi daerah yang ada di Kecamatan Poncowarno cukup banyak. Hal ini terdapat di berbagai bidang seperti sumber daya alam dan pariwisata.  Belum lama ini Pemerintah daerah tingkat kecamatan di Poncowarno mengembangkan potensi daerah wisatanya berupa Jembangan Wisata Alam (JWA).  

Tempat wisata baru ini terletak di Desa Jembangan Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen, sekitar 1 jam dari pusat Kota Kebumen. Sungai alam yang dibatasi oleh sebuah bendungan ini terletak bersebelahan dengan PLTA Pejengkolan. Aliran air dari Waduk Wadaslintang yang terbendung ini dimanfaatkan sebagai objek wisata oleh pemerintah setempat. Karena alirannya yang tenang sehingga dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang aman. Belum banyak orang yang mengetahui tempat ini karena memang belum banyak publikasi dari pemerintah tentang objek wisata ini. 

Hal utama yang menarik dari objek wisata ini adalah suasana alamnya yang memang masih sangat alami walaupun sarana untuk wisatawan belum dibangun secara maksimal. Ada beberapa sarana yang ada di area wisata ini a.l. berupa perahu yang bisa membawa anda berkeliling sungai yang diapit oleh tebing tinggi, rest area, warung makan sederhana, dan perahu “bebek air”. Untuk ke depannya, objek wisata ini akan dibangun kolam renang anak, beberapa restaurant, dan sarana lain untuk melengkapi kebutuhan wisatawan. Wisatawan dapat menikmati keindahan Jembangan Wisata Alam ini dengan keluarga, atau teman dengan memancing atau berkeliling area dengan perahu yang tentunya murah, hanya dengan 10 ribu anda bisa berkeliling sungai alam ini sekitar 1 jam. Untuk Urusan makanan, masih sangat terjangkau walaupun tentu menunya belum selengkap objek wisata lain. Ini baru sedikit dari mutiara alam yang tersembunyi di kawasan dengan tanah tertua di Asia Tenggara. Akankah muncul lagi mutiara alam itu? ya kita patut menunggu kejutan alam Kebumen dibalik ke”kalem”an daerah ini.

Rabu, 02 Mei 2012

My Grandfather and I


Everybody in this life has his or her stories, the stories can be both sad and happy ones. He or she also has someone who is special in his or her hearts, I have too. I have many wonderful stories, and I also have many special people in my heart. However, the story which is always memorable is my story about my grandfather. He is the father of my mother. My mother comes from Central Java, while my father comes from West Java. My grandfather is from Padang. I have a lot of families from different ethnics. I love to speak ngapak”, but I can also speak the Sundanese, and a little bit Minangkabau language.

When I was born, my father had an accident, and was hospitalized for a long time. It caused my mother struggled alone to give birth to me. However, my grandfather who stayed with my birth and also who called “adzan” in my ear could replace my father’s presence. It was the first sound I heard after I come into the world, the voice of my grandfather. Maybe that's my reason why I loved my grandfather very much. He was really very special in my eyes. Among all his grandchildren, I was the most beloved. My grandfather gave his money for me. I felt guilty to receive it, but he put the money secretly in my bag. My grandmother told me that my grandfather was very worried when my mother was giving birth of me. After he visited me, he used to tell about my growth with great enthusiasm and everything that I already did. 

One day, I managed to say the word "Mbah". It was the way of grandchildren calling his or her grandparents in Javanese language. At the moment, my grandfather moved to tears, because I could call him for the first time. Every holiday, I visited my grandfather's house. He told his life experiences. All of his stories were very interesting. They were about his adventures in exploring many cities in Indonesia, about the principle of his life, and about how he viewed this life. They were amazing to me.


I also greatly admired his life which was very religious. He prayed to God diligently. He also did the sunnah of worship, like fasting every Monday and Thursday, praying Tahajud and recitation Al Qur’an. One day, my grandfather was ill due to his stomach problem. He was hospitalized frequently, but he wasn’t getting better. I used to visit him when he was sick. One day, he was lying weakly on the bed. When he ate something, he was in pain. At that time I did the national examination in my senior high school, so I couldn’t go home to visit him. I planned that on the last day of the exam I would return. I was really afraid if I couldn’t see my grandfather. However, on the day I came home, my family informed me that my grandfather could not survive. He died without having a chance to see me, and to sooth my head.

My heart was hurt when I heard the news of my grandfather’s death. My grandfather, who loved me very much, passed away without saying any word to me. He died without waiting for my arrival. My aunt told me, two days before my grandfather died, he asked about me and told to my aunt that he really missed me. He understood   my situation. He prayed in order that I could pass the exams with good grades. Then, he asked my aunt to take the blanket and the clothes when once I was a baby in his cupboard. Then, he hugged it. While crying, he called my name   to tears.

I really regretted it, because I couldn’t see him at the last meeting. Up to now, I keep regreting it. I also missed him very much. When I missed him, I went to see his room, and sometimes, I fell asleep in my grandfather's room. I used to remember his advices, and all about him. He used to say that life was beautiful and it was a gift from God. He said this life was a promise to God, our promise to be the best and did everything as a worship to God. Therefore, we had the promise. We had to thank God for what He gives us, and He loves us.

When I’m getting older and looking back to the past, I hope I can be like my grandfather and say that the past … was wonderful !